Bintang Itu Kamu
Bagiku setiap orang adalah bintang. Inilah dasar sebenarnya mengapa aku memilih bintang sebagai objek favoritku.
Bintang mungkin hanya sebongkah batu raksasa dengan keistimewaan ia dapat memancarkan cahaya sendiri. Bukan cahaya dari pantulan. Begitu pula manusia seharusnya memiliki aura. Setiap manusia memiliki auranya sendiri, memancarkannya sendiri. Bukan memancarkan aura orang lain alias plagiat (kejem euy nyebutnya). Beda lagi dengan gen ya teman...
Aku bukan orang yang rajin memandangi bintang dilangit. Aku bahkan hanya memperhatikan mereka beberapa kali saja, yakni setelah sebelumnya guru SD-ku mengajarkan rasi bintang yang menunjukkan arah dan aku ingin membuktikannya dan setelah guru SD-ku mengatakan bahwa warna bintang itu berbeda-beda, hijau, kuning, merah, atau putih... Pernah aku berharap bintang itu berwarna hitam, sehingga ia terlihat disiang hari dan aku dapat menyapanya ketika berangkat sekolah. Tapi itu hanya khayalan masa kecilku.
Menurut kata hatiku, bintang itu dingin karena ia selalu bungkam. Ketika aku menuliskan ini, timbul satu pertanyaan baru, apakah bintang juga meng-orbit? Sementara ini pikiranku menjawab tidak. Entah salah atau benar...haha...
Kalau aku ditakdirkan menjadi salah satu bintang dilangit, aku ingin berada diantara segerombolan bintang-bintang yang lain. Aku tidak menginginkan menjadi satu bintang yang paling terang. Aku hanya ingin terlihat damai tanpa angkuh. Aku hanya ingin selalu bersama orang-orang yang senantiasa menyayangiku, mengitariku. Dan aku ingin ada satu bintang yang setia menantiku, untuk muncul di malam hari bersamaku, untuk selalu mendampingi dan menuntunku. Bintang itu kamu.






0 komentar:
Posting Komentar